Cikidang Path : Defeat The Arrogance.

image

A…. hudang a… ceunah Aa arek jalan isuk-isuk. Kumaha si ieu teh…” (Aa, bagun Aa, katanya mau jalan pagi-pagi. Gimana sih…)….

Mata yang masi sepet beranjak terbuka. Lirik jam di ponsel. Hmm… jam 5 pagi. Setelah minggu lalu short ride ke Puncak via Gunung Geulis, pagi ini ane berniatnya short ride lagi ke Pelabuhan Ratu buat ngenalin Cikidang Path sama si Ale, Kawasaki AX athlete ane.

Jalur Cikidang. Mungkin ini salah satu jalur perlintasan yang menjadi pavorit sebagian biker seputaran Jawa bagian barat. Jalur sepanjang 40 km ini merupakan perlintasan antara Cibadak dan Pelabuhan Ratu yang dipenuhi tikungan di wilayah perbukitan. Cikidang sendiri terletak hampir di tengah-tengah dari perlintasan ini. Tikungan mendatar, menurun, dan menanjak menjadi bumbu yang dapat menyengat adrenalin siapa saja yang melewatinya.

bgr_plbratu_googleearth_tra1
Sumber Foto : Bang Taufik, 2009.

Mandi dan Wudhu 5 menit, Shalat Subuh. Segelas air putih. Djarum Black Sebatang. Ale dipanaskan sebentar. Menuju Dry Cabinet. Hmmm.. Si bongsor apa si mungil ya? Si bongsor? + Lensa apa ya? hmm.. Tapi akhirnya lengan kembali meraih si mungil my old trusted shutterhand. Nikon P7100. Compact premium pocket yang paling siap diajak kemana-mana. mungil kompak, metal build, optical viewfinder, full jog dial manual mode, dan fast 2.8 lens in 28mm wide mode. Super andalan buat diselipin gantungan leher balik jaket untuk fast shoot. Pasti di bawa biarpun kadang cuma menemani sebagai cadangan dari adik-adiknya yang lebih bongsor. Jaket. Sarung tangan. Protector. Ok Ale, lets ride…

Jam 6 Pagi. Pagi yang cerah. Great and Damn ! Great weather, mengurangi masalah di jalan. Namun Damn ! Foto session ria menyambut matahari dan kemungkinan RoL (Ray of Light) di antara kabut Cikidang pastinya sudah lewat. Tapi yaaah.. sudahlah.. Makanya bangun pagiiii !!! Batin merutuk sedikit. Ride dari BSD, ane melewati Puspitek, Parung, dan langsung disambut dengan kemacetan di bogor pukul 6.45 Pagi.
Grrrh… mampir sebentar di Pom Bensin dekat pertigaan ke Yasmin. Petramax 40 Ribu. Si Ale berjalan di antara kepadatan pengendara lainnya mulai dari Jambu Dua hingga Ciawi. Lepas dari Ciawi, berhenti sejenak. – seperbatangan Djarum Black. Mengambil nafas sebentar.. Oke Le.. Jalan sudah sepi….

image

Kembali cruising santai. Jam 8.46 ane sudah sampai di pertigaan Cibadak – Cikidang. 500 m dari belokan awal masuk ane putuskan untuk break ngopi yang tadi pagi belum sempat.

image

“Teh, punten, aya kopi cappucino tor*****?” (Mbak, maaf, ada kopi kapucino Tor*****?”)
“aya a, sakedap nya’ “ (Ada a, sebentar ya..)

30 detik. Kopi diseduh. Terhampar di meja warteg. Seruput sedikit. Bakar black. Nikmatnya hidup…

“sorangan a?” (sendirian a?)
“he euh teh.” (iya teh)
“bade kamana a?” (Mau kemana a?)

Hmm… Males cerita panjang mengenai hobi fotografi dan touring. Juga kecenderungan menjadi solois touring pada beberapa tahun terakhir. Anti-sosial? Tidak juga. Mungkin faktor umur. Udah gak kuat riding dengan anak-anak muda yang semangatnya tinggi. Hahaha.

Ngeles asal bunyi jadinya. “Arek ka palabuhan teh, aya gawe ti kantor kudu nganter barang kaditu…” (Ke Pelabuhan mbak, ada kerjaan dari kantor harus nganter barang ke sana…). Seraya menunjuk Box Ale yang padahal isinya cuma sparepart cadangan, tool kit, jas hujan, tas kamera, dan tripod.
“ooo… cek abdi teh anak momotoran. da dandanana si Aa jiga kitu…. “. (ooh, kirain saya anak motor. Abis dandananya seperti itu.)
“aahh… si teteh mah tiasa wae… Ieu jaket ge meunang minjem teh. ti’ baturan nu boga motor guede… piraku urang budak momotoran atuh.. da sorangan.. make bebek deui…”. (Ahh.. si mbak bisa aja. Ini jaket juga dapet minjem mbak. Dari temen yang punya motor gede. Masa saya kayak anak motor, udah sendiri, naek bebek juga lagi..).
“eta teh bebek nya a? tara urang ningali na…” (Itu bebek ya a? Jarang saya melihatnya..)

As always, Si AX yang aneh setengah bebek ayago dengan tangki di depan, rada-rada aneh bagi yang jarang melihat.

“ati-ati A mun lewat Cikidang. loba rombongan nu sok ngebut teu pararuguh. Jiga teu boga ka sieun. Urang geus hati-hati, eh bisa calaka oge gara-gara nu begajulan jiga kitu.” (Hati-hati kalo lewat Cikidang. Suka banyak rombongan yang suka ngebut struntulan. Seperti gak punya takut. Kita sudah hati-hati bisa juga celaka gara-gara yang struntulan seperti itu).

Rombongan. ngebut. teu araruguh. Kembali soal bikers di jalan raya. Mungkin, terkadang ada beberapa yang terlupa bahwa Cikidang bukanlah arena balapan. Apa sebutannya? Fast track Cikidang? Sirkuit Cikidang? Perlintasan ini hanya sebuah jalan raya umum. Keindahan alamnya, liukan kelokan jalannya, kadang dapat membuat biker – terutama mungkin yang berasal dari kota yang penuh kemacetan, menjadi terlena. Kita sering meributkan pemotor kota yang struntulan, berhenti di depan garis putih saat lampu merah, jalan di trotoar, selap-selip dalam macet, strobo, toa, tongkat Ninji, dan lainnya. Tapi agak sedikit terlena dengan aturan garis putih di tengah jalan, aturan maksimal kecepatan berkendaraan yang cuma 80 km/jam – kecuali dalam jalan tol, apalagi batas 80-85 desibel untuk knalpot. Entahlah. Lebih mudah memperdebatkan yang gampang dikerjakan daripada yang kerap dilakukan.

Kembali melirik jam. Hmm, 09.30. Setengah jam. Racun kafein dicampur nikotin sudah memenuhi otak sel kelabu yang mulai berkarat ini. Ok Ale, lets ride again.

Pada 20 km awal, jalur dijejali panorama perkebunan dengan aspal mulus. Beberapa kali ane berenti hanya untuk mengabadikan lekuk L atau S curve cantik untuk dijadikan path leading eye pada suatu third rules framing foto. Cukup bersyukur dengan cuaca yang sangat cerah. Histogram pada tiap kali shoot menunjukan kesetimbangan shadow dan highlight yang cukup baik. Its A Nikon! (Nikonian mania.. hehehe..). Si Ale riding santai pada kecepatan rata-rata 70 km/jam. Disinilah ujian kesabaran dimulai. Tikungan sangat mulus. Menggoda.

image

Kira-kira 10 km terakhir menuju Cikidang terdengar raungan knalpot free flow dari belakang. Lirik spion. Terlihat rombongan 5 motor underbone konvoi. Ridernya full protector gear. Dengan si Ale berkecepatan 60-70 km/jam, maka dari cepatnya rombongan tersebut mendekat, ane perkirakan kecepatannya berkisar antara 80-100 km/jam. Jarak antar rider sangat rapat, hanya terpisah 1-2 motor.

Tak sampai beberapa detik setelah terlihat di spion, rombongan mendekat ke Ale dalam jarak hingga satu motor. Menuju tikungan kiri, blind. Ane putuskan untuk menutup jalur dulu. RC mereka bergerak mengambil agak tengah jalan, melaju lebih kencang. Ane di line kiri yang aman. Busyet! Bersiap menyalip dari arah kanan di tingungan ke kiri? outside overtaking? Di tikungan blind? Apa ini sirkuit Motor GP? Bergaya Lorenzo mau nyalip??
Saat mendekati tikungan, ane mulai agak kesal dengan gayanya yang berbahaya (bagi ane sih). Ane ingeti sedikit, kode dobel: Sen menyala ke kanan dan kaki kanan sedikit turun:
Sabar! bahaya bro! Kalo ada angkot di balik sana, mau banting ke kiri ngehantam Ale? Apa keluar jalan mau menghantam tanah tebing?

Untung, “sang pembalap” agak paham kode ane. Rada lepas gas, lebih perlahan, masuk ke jalur belakang Ale. 6 motor beriringan memasuki tikungan menurun dengan jarak yang bagi ane rapat dikecepatan segitu. Setelah itu S curve, landai. Ane kasih sign sen kiri. Tangan kanan melepas gas membuat kode monggo agan-agan… duluan.. RC lewat sambil klakson. Nomer 2 memberi jempol. Begitu selanjutnya melewati dengan kecepatan cukup tinggi. Ale balas mengklakson dua kali. Tergolak sedikit sisaan darah adrenalin untuk  mengikuti mereka. Si Ale – walaupun hanya seekor bebek dalam kondisi mesin super standar, kombinasi karet bundar yang melingkari kaki-kakinya dengan handling stabilnya yang khas Kawasaki ane yakin mampu bejaban jalan mengimbangi underbone mereka. Toh di jalan ini gak akan berguna yang namanya top speed. Torsi menanjak? sama-sama bebek. Tapi buru-buru dibejek pikiran gak beres ini. Tetap membiarkan mereka menjauh. Fiewh, mau ngapain serasa di sirkuit?

Kita sering berbicara arogansi bikers di jalan dengan blokir jalan, menghalau penyusup dengan kasar, atau memaksa meminta jalan. Tapi mungkin…. yang lebih bahaya dan sulit terlihat : Arogan sama diri sendiri. Sama nyawa sendiri. Andai rombongan tadi cruise kecepatan tinggi keluar dari line aman – bergaya fast in out layaknya di sirkuit, sementara dari depan ada kendaraan tak terlihat mau bagaimana? Tabrakan berantai? Atau sh** happen, keluar dari jalan? Memilih antara menabrak tebing atau meluncur bebas di jurang? Perlukan ditambah lagi korban biker di Cikidang yang seperti ini?

image
Sumber foto : Radar Sukabumi, 25-06-2013, disini

Mungkin, IMHO, inilah artinya Cikidang Path – bagi penikmat angin di jalan luar kota. Diantara godaan indahnya jalur jalan raya melintasi alam, melatih mengalahkan arogansi terhadap diri sendiri.

image

setelah sekitar 20 KM dari pertigaan Cibadak, ane melewati Cikidang. Kota Kecamatan kecil. Selanjutnya menuju Pelabuhan Ratu, lebih tricky. Di beberapa tempat, tikungan menanjak dan menurun memiliki “ranjau” pasir atau lubang. Membuat kewaspadaan lebih tinggi saat melintasinya. Ale riding santai, sekitar pukul 10.45, tiba di Pantai.

Setting tripod. Shoot Panorama. Filter Kamera ND200. Slowspeed merekam ombak. Setelah itu segelas Es kelapa.
Allright Le, this is the southern beach! Kemana lagi kita minggu depan?

image

Advertisements

6 thoughts on “Cikidang Path : Defeat The Arrogance.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s