Menyusuri Ombak Pantai Banten

image

Sometimes, even a seashore worker, may need a break with clear sunshine at sandy beach. See the break of sea-wave in a rocky beach without any fancy and heavy working gears.

Lets go Le!

Semenjak riding terakhir bersama Ale ke Pelabuhan Ratu, ide ane muncul buat riding santai sama Ale untuk menyusuri pantai Banten dari selatan ke utara. Nyeruput kopi pagi sambil berburu RoL kabut Cikidang, jepret Ale nangkring di tebing menuju Sawarna, dan santai framing sunset di Anyer. Lalu balik melewati jalur perbukitan yang berkelok menantang di Muncak Cilegon-Serang dan kembali ke Pamulang lewat jalur utara.

image
Hari ini obsesi ride sekitar 445 km kesampaian juga. Dini hari, jam Setengah empat. Sedikit teh pahit hangat sambil memanaskan Ale, lalu drive santai menuju Cibadak. Jalanan masih sepi dan lengang sehingga bebek Kawasaki si Ale bisa dipacu optimal. Nikmatnya jalan yang tanpa macet! Tak terasa, tepat jam 5.30 WIB sudah sampai di pitstop pompa bensin Cibadak. Lepas mengisi bahan bakar dan Sholat Subuh, jam 5.50 Ale sudah siap memasuki jalur touring yang terkenal di kalangan bikers. El Track Cikidang.

Sunrise yang cerah, selimut kabut tipis, dan udara yang dingin menyambut saat memasuki jalur Cikidang yang meninggi hingga 606,7 m DPL. Di tengah rimbunnya kelapa sawit, ane berhenti diwarteg untuk menikmati kopi hangat cikidang. a beautiful sunrise! 5 menit ngeframe mentari pagi yang ceria di biru langit, kopi panas sudah beranjak hangat. Fiewh! Narik nafas dalam-dalam, oksigen 20an derajat selsius yang bersih ini mahal harganya untuk dicari di kepadatan Jakarta! Melewati jalur Cikidang itu seperti candu. Selalu menggoda untuk kembali.

image

Puas merekam pose mentari pagi, riding santai kembali dilanjutkan menuju Pelabuhan Ratu ditemani anak-anak sekolah smp-sma setempat. SMP kok sudah pakai motor ya? Jadi teringat kampanye RSA. IMHO, butuh kesadaran moral yang sangat besar bagi orang tua agar hal ini bisa berhasil. Beberapa abg -yang mungkin agak labil bleyer-bleyer menyusul Ale. Tapi wis sadar umur, adrenalin pun terjaga santai. Hanya ane balas sambil toet-toet dan melambaikan tangan. Beberapa melambai balik, namun banyak juga yang cuma membetot gas menjauh.

Sekitar sejam lebih sedikit, ane sampai di Pelabuhan Ratu pada jam 8 pagi yang cerah. Mampir sebentar di bengkel, braket box Ale seperti agak goyang, berisik. Setelah sebentar memfoto laut selatan Pelabuhan Ratu, ane lanjut menuju Pertigaan Ciawi.

image

Riding di daerah ini adalah tanjakan dari permukaan laut hingga ketinggian maksimum 201 m DPL. Tanjakan dan turunan curam dengan kerikil dan pasir perbaikan jalan cukup membuat riding harus konsentrasi penuh. But its all worthed! Di kiri jalan adalah view laut selatan yang biru bertemu dengan tebing-tebing yang cadas.

image

Di sebuah bukit yang tinggi, ane stop lagi, another coffe break sambil merekam pemandangan lewat my trusted Nikon P7100. Lalu duduk santai ngopi disebelah tukang ojek yang mangkal.

“Sorangan wae a?” Akang ojek menyapa ramah.

Pertanyaan ini lagi. Emang riding harus rame-ramean? “Heeuh kang. Arek balik ka imah di Malimping.” Ngasal. Ngeles. Seperti biasanya.

“Oohh.. Muh arek, yuk a, urang jajap ka Mak Er*t. Mattepp a… bikin seru di imah…..”

Owalah ngomong opo maning toh Kang! Ono-ono wae ki! Cuma bisa nyengir kayak kuda. Emang dikiranya ane kurang muacho apa? Hehe. Mesem-mesem dikit, ciao cabut.

Sambil menikmati view laut selatan dari bukit yang terjal, gak berapa lama ride sampai di pertigaan Ciawi. Berenti sebentar, melirik GPS. Kedua jalur ini bertemu lagi di Bayah. Jalur kiri sudah umum, menyusuri pantai bagi yang mau menuju Pantai Sawarna yang terkenal. Jalur kanan? sepertinya menuju perbukitan. Menimbang seperbatangan Djarum Black, mantapkan hati lanjut jalur kanan. Kelok-kelokan pada GPS sepertinya lebih menggoda iman.

Pemilihan jalur -walaupun tidak seaside view, tepat untuk riding yang lebih menantang. Jalur jalan Nasional (Nama pada GPS) ini hampir serupa dengan jalur Gunung Geulis-Sentul maupun Muncak Cilegon-Serang. Jalan kecil mulus dengan kelokan tanjakan dan turunan tajam khas perbukitan wilayah Banten. Menjulang untuk ride hingga ketinggian maksimum 407.3 m DPL.Β Tiga perempat dari ketinggian jalur Cikidang. Saat akhir dari jalur, terlihat laut biru dan kota Bayah dari ketinggian 200 m DPL dan lekuk pematang sawah di kiri serta kanan jalan.

What a view!
image

Sesampai di Bayah, setelah menempuh sekitar 98.5 km dari Cibadak, ane berhenti untuk mengisi bahan bakar lagi. Full tank and ready to go! Lanjut riding menyusuri pesisir selatan ombak Pantai Banten menuju Malimping. Jalan sepanjang 33,8 km ini adalah seaside road dengan view pantai selatan yang berombak keras, batuan karang yang kokoh, dan pasir kecoklatan. Wow! Beberapa kali ane berhenti hanya untuk mengabadikan seascape yang indah. Sedikit agak menyesal tidak pack full gear alat fotografi definetely revisited next time. Short ride revisit pantai ini dengan path via jalur Gunung Kencana lalu balik lewat Cikidang sedikit terbayang di kepala. Oke yo Le! next time kita khusus buat foto di sini lagi! Sekitar 10 km terakhir menuju Malimping, ane berenti sebentar. Segelas es teh dingin menyegarkan riding di siang yang mulai panas.

image

Pada jam 11.13 ane sampai di Malimping. Riding berlanjut menuju Saketi. Jalur sepanjang 57.3 km di tengah hari yang menyengat adalah nightmare bagi bebek Kawasaki. Jalan rusak parah, kerikil batuan berserakan, view hutan berdebu, dan pohon sawit yang bertumbangan. Setting monoshock Ale (yang di set ke paling keras untuk enak manuver Cikidang dan Muncak Cilegon) menjadi bumerang di sepanjang jalan yang ditempuh hampir dalam 2 jam yang menyiksa.

image

Speechless, hanya bisa menarik nafas lega saat sampai Saketi. Lalu kembali memacu Ale 80 km/jam antara Saketi-Labuhan yang lebar dan mulus. Tak berapa lama, sampai di final stop Carita – Anyer. Berhenti di tempat favorit – pitstop dari jaman si Merah UG4. Lelah dan debu jalanan sedikit hilang terbasuh air wudhu untuk Zuhur. Lanjut Ashar.

image

Lalu segelas es Kelapa yang Menyegarkan.
Semangkok mie rebus.
Finish juga setelah hampir 11 jam ride melintasi selatan hingga barat Pesisir Banten.

Ale diparkir sebelah bale-bale. Duduk santai bersama Djarum Black dan segelas cappucino dingin. Semilir angin laut sore. Menatap ke arah barat.

Allright Le! You know, far to there, thats the Famous Krakatau Volcano. Shall we wait for sunset here?

Advertisements

27 thoughts on “Menyusuri Ombak Pantai Banten

  1. wah asyik nih keliatannya touringnya πŸ˜€
    btw jangan2 orang yang ngajak ngobrol mas Indra itu marketingnya mak e**t hehehe

  2. Coba dr labuan belok kanan gan arah panimbang terus ke tanjung lesung,atau lurus ke pulau umang, kalo mau ke malingping binuangeun bisa jalan perempatan cibaliung. Btw mantap jalan-jalanya om , salam kenal y dr JK πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s